Hello sahabat Koperasi dan UMKM NTB!
Pada minggu pertama bulan Februari 2026, seluruh karyawan Diskop UKM NTB menggelar Imtaq yang dilaksanakan di Musholla Bustanul Arifin Diskop UKM NTB. Jumat (06/02/2026)
dalam kesempatan itu Kadiskop UKM NTB Wirawan Ahmad memberikan tausyiah dengan tema” Musholla Kantor dan Ikhtiar Kemanusiaan”
Berikut ulasannya:
Kegelisahan itu datang pelan. Tidak meledak, tidak pula dramatis. Ia justru tumbuh ketika pekerjaan terlihat berjalan baik-baik saja. Program dilaksanakan, anggaran diserap, laporan disusun rapi. Namun di balik semua keteraturan itu, muncul pertanyaan yang terus berulang dalam benak saya: apakah bekerja sesuai prosedur sudah cukup untuk menjawab tujuan keberadaan kita sebagai aparatur publik?
Kegelisahan itulah yang saya sampaikan pagi ini, dalam suasana pengajian Jumat yang sederhana bersama rekan-rekan di Dinas Koperasi dan UKM. Bukan dalam bahasa instruksi, bukan pula sebagai pengarahan resmi, melainkan sebagai kegundahan yang saya rasa perlu dibagi. Saya katakan dengan jujur, mungkin selama ini kita telah bekerja, tetapi hampir selalu dalam kerangka yang formalistik—bekerja karena program, karena dokumen, karena kewajiban administratif.
Saya menyampaikan bahwa saya menginginkan lebih dari itu. Saya menginginkan totalitas. Bukan hanya totalitas sebagai pegawai yang menjalankan tugas pokok dan fungsi, tetapi totalitas sebagai pribadi dan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian. Kebetulan saja, kita semua bekerja di institusi yang setiap hari berbicara tentang koperasi, usaha, dan kesejahteraan.
Di tengah percakapan itu, saya mengajak melihat ulang dua hal yang selama ini hadir di sekitar kita, tetapi jarang kita pandang sebagai instrumen perubahan: musholla kantor dan koperasi karyawan. Keduanya ada. Keduanya hidup. Namun sering kali kita biarkan berjalan sendiri, tanpa pernah kita niatkan sebagai ruang praksis dari nilai-nilai yang kita yakini.
Saya sampaikan sebuah mimpi yang sederhana namun menuntut keberanian: menjadikan musholla kantor sebagai laboratorium nyata kepedulian sosial. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi tempat nilai keimanan diterjemahkan menjadi tindakan. Secara praktis, musholla ini diharapkan memiliki binaan satu atau dua rumah tangga miskin ekstrem—dan tidak jauh-jauh, mereka adalah rumah tangga yang tinggal di sekitar kantor kami.
Kemiskinan ekstrem itu tidak berada di tempat yang abstrak. Ia ada di sekitar kita. Kita melewatinya setiap hari. Karena itu, saya merasa tidak etis jika kita berbicara tentang pengentasan kemiskinan ekstrem sebagai kebijakan besar, tetapi menutup mata terhadap realitas yang bertetangga langsung dengan institusi kita.
Hari ini, mimpi itu tidak dibiarkan berhenti sebagai refleksi. Saya langsung meminta rekan-rekan untuk mulai mengidentifikasi calon rumah tangga binaan di sekitar kantor. Bukan untuk segera memberi bantuan, tetapi untuk memahami mereka secara utuh: bagaimana kondisi hidupnya, potensi apa yang dimiliki, dan bentuk pendampingan apa yang paling mungkin dilakukan secara manusiawi dan berkelanjutan.
Pendampingan ini dibayangkan berlangsung secara graduatif—pelan, terukur, dan konsisten—hingga rumah tangga tersebut benar-benar keluar dari kategori miskin ekstrem. Pengetahuan tentang koperasi, usaha mikro, akses pembiayaan, dan penguatan ekonomi yang selama ini menjadi pekerjaan harian, diuji langsung di ruang nyata. Ilmu tidak lagi berhenti sebagai konsep, tetapi menjelma menjadi praktik bersama.
Ikhtiar kecil ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia sejalan dengan target besar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam pengentasan kemiskinan ekstrem. Target yang disadari tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah sebagai institusi. Ia hanya mungkin tercapai jika semua pihak—lembaga, komunitas, dan individu—memberi kontribusi nyata, dari ruang dan peran masing-masing.
Di sinilah pendekatan collaborative governance menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling jujur. Pemerintah tidak berdiri di atas masyarakat, tetapi hadir sebagai bagian darinya. Koperasi karyawan dapat menjadi pengungkit ekonomi. Musholla menjadi simpul nilai dan komitmen. Keduanya menyatu dalam satu ikhtiar kemanusiaan yang mungkin tidak tercatat sebagai program formal, tetapi nyata dampaknya.
Tulisan ini bukan tentang kepemimpinan yang heroik. Ia lahir dari pengakuan akan kegelisahan, dan dari keberanian untuk memulai dari yang dekat dan mungkin. Jika satu musholla mampu mendampingi satu rumah tangga hingga keluar dari kemiskinan ekstrem, maka pengalaman itu bisa menjadi cerita yang menular—bukan lewat instruksi, tetapi lewat teladan.
Barangkali, di situlah makna bekerja yang sedang saya cari: ketika peran sebagai aparatur dan sebagai manusia tidak lagi terpisah. Ketika target pembangunan bertemu dengan empati. Dan ketika pengentasan kemiskinan ekstrem tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi ikhtiar bersama yang dimulai dari sekitar kita. (Tim PPID Diskop UKM NTB)