Menjaga Harapan, Merawat Kritik

Pemerintah pada level manapun, saat ini tengah menghadapi ujian.

Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat dari kebijakan, persepsi sering berlari mendahului proses. Yang belum selesai mudah disebut gagal. Yang belum sempurna dianggap tak bekerja.

Harus diakui: hasil belum selalu setara dengan harapan. Ada yang tertunda, ada yang perlu dibenahi. Pemerintahan bekerja dalam batas—batas anggaran, batas waktu, batas sumber daya manusia. Negara bukan ruang steril dari kekurangan.

Namun sejak awal, negara memang bukan entitas yang suci. Dalam gagasan kontrak sosial yang pernah dibicarakan Jean-Jacques Rousseau, negara lahir dari kesepakatan dan terus diuji oleh warganya. Kritik bukan ancaman. Kritik adalah tanda kepemilikan.

Yang berbahaya justru apatisme.

Karena saat kepedulian hilang, perbaikan ikut kehilangan tenaga.

Kritik diperlukan untuk menjaga kewarasan kekuasaan.

Harapan harus selalu dijaga agar tumbuh menjadi energi bersama.

Menjaga harapan bukan berarti menutup mata pada kekurangan.

Merawat kritik bukan berarti menafikan kerja yang sedang berjalan.

Di antara keduanya, kolaborasi menemukan ruang bagaimana

mengawasi tanpa membenci,

menuntut tanpa merendahkan,

berkontribusi tanpa menunggu sempurna.

Negara bukan hanya soal siapa yang memerintah,

tetapi tentang siapa yang tetap peduli.

Dan selama kepedulian masih ada,

harapan selalu punya tempat untuk tumbuh kembali. Penulis Kepala Dinas Koperasi UKM Prov.NTB _ H.Wirawan Ahmad)

Leave a Comment