Hello sahabat Koperasi dan UMKM NTB!
Rilis Resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB yang memaparkan data dan perkembangan terkini kondisi ekonomi daerah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin (2/2/2026).
Dalam rilis tersebut, BPS Provinsi NTB menyampaikan tujuh indikator utama, meliputi inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), pariwisata, transportasi, ekspor impor, serta luas panen dan produksi padi dan jagung.
Berdasarkan data yang dirilis, tingkat inflasi Provinsi NTB pada Januari 2026 tercatat relatif terkendali. Inflasi month to month (m-to-m) dan year to date (y-to-d) masing-masing sebesar 0,27 persen.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 tercatat sebesar 130,31, atau mengalami penurunan 2,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada sektor pariwisata, BPS mencatat peningkatan jumlah wisatawan mancanegara maupun nusantara pada bulan Desember 2025. Kenaikan ini didorong oleh berbagai event besar yang digelar di NTB, seperti Mandalika KORPRI Fun Night Run 2025, peringatan HUT Provinsi NTB, Mandalika International Festival (MIF) 2025, Senggigi Open Surfing 2025, Festival Perang Topat, Gawe Beleq Kayangan, serta Festival Bekerase.
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas pariwisata, jumlah penumpang transportasi laut dan udara yang datang dan berangkat pada bulan Desember 2025 juga mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari sisi perdagangan internasional, nilai ekspor Provinsi NTB pada periode Januari–Desember 2025 mencapai US$ 1.697,15 juta, atau mengalami penurunan 33,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, nilai impor pada Desember 2025 tercatat sebesar US$ 34,21 juta, turun 56,69 persen dibandingkan Desember 2024.
Pada sektor pertanian, luas panen padi tahun 2025 mencapai 322,90 ribu hektare, meningkat 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan tahun 2024. Sejalan dengan itu, produksi padi 2025 mencapai 1,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 255,21 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun demikian, luas panen jagung pipilan tahun 2025 tercatat sebesar 173,09 ribu hektare, mengalami penurunan 0,67 ribu hektare atau 0,39 persen dibandingkan 2024. Produksi jagung pipilan kering (KA 14 persen) juga mengalami penurunan menjadi 1,18 juta ton, atau turun 34,63 ribu ton atau 2,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Melalui rilis ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat menjadikan data BPS sebagai acuan perumusan kebijakan dan penguatan program pembangunan ekonomi daerah, khususnya dalam mendukung sektor koperasi, UMKM, pariwisata, dan pertanian di Provinsi NTB. (Tim PPID Diskop UKM NTB)